• KANTOR PERPUSTAKAAN DAN ARSIP
  • Jl. Raja Kecik No. 22 Siak Sri indrapura Tel: (0764) 20346
  • ==================================================================

Berita

Perpustakaan Siak Satu-satunya Berakreditasi A di Riau

Menikmati pesona wisata di Kabupaten Siak tidak hanya terfokus pada bantaran Sungai Siak serta bangunan bersejarah Istana Aserayah Al Hasyimiyah. Kini, Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Siak pun menyediakan ruang rekreasi cerdas bagi masyarakat.

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Kota Siak Sri Indrapura, cocok memilih perpustakaan sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Baik di pagi, siang ataupun sore hari. Koleksi bacaan dan ruang bersantai tersedia untuk segala usia.

Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Siak juga berada pada posisi sangat strategis. Hanya berjarak satu gedung dengan pertigaan Jalan Hangtuah dan Jalan Raja Kecik. Tidak berapa jauh dari kediaman Bupati dan Wakil Bupati Siak. Tepat di tengah Kota Siak Sri Indrapura.

Begitu memasuki kompleks perpustakaan yang dilabeli dengan 'rumah baca' itu, pengunjung disuguhi taman bunga yang rapi. Kemudian melangkah ke dalam, mengisi daftar kunjungan pada layar komputer yang dapat digunakan tanpa bantuan petugas. Baru kemudian bisa mengakses informasi melalui media massa cetak yang terpajang di bagian kanan. Di sebelahnya, ada ruang bermain anak dengan segala fasilitasnya. Mulai dari bahan bacaan anak-anak, bola-bola hingga smartkids. Anak-anak bebas berlarian di sana atau bisa memanfaatkan fasilitas smartkids secara bebas.

Di bagian dalam, ruangan akan terbagi dua fungsi tanpa sekat. Sebelah kanan, pengunjung akan dimanjakan oleh pilihan ribuan koleksi bacaan, mulai dari bacaan ringan, sedang dan berat hingga bacaan-bacaan teknis. Sejarah, filsafat, sastra, budaya, ekonomi, geografi serta biografi tokoh-tokoh dunia cukup memadai. Pada masing-masing rak sudah diberi label terkait kumpulan koleksi bacaannya.

Sementara di bagian kiri, sofa-sofa empuk berjejer dan rapi. Anda dan keluarga bisa santai di sana sambil membaca buku kesukaan. Bisa pula berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan layanan internet wi-fi gratis. Setiap ruangan perpustakaan nyaman dijadikan tempat santai setiap hari.
 
Kamis (31/3) sore, perpustakaan itu masih ramai pengunjung. Selain siswa, banyak masyarakat umum. Selain memang mencari bahan bacaan, sebagian siswa melaksanakan diskusi dan mengerjakan tugas kelompok. Sementara pengunjung yang berkeluarga, membaca sambil mengajak anak bermain di ruangan permainan anak.

"Minimal tiga kali seminggu ke perpustakaan sama anak. Cari-cari buku bacaan sambil ngajak anak mengenali buku. Lagian di sini nyaman," kata Ratna, warga Suak Lanjut yang suka datang keperpustakaan. Syafiga dan Asmawati tampak senang mencari bahan bacaan dan mengerjakan tugas sekolah di perpustakaan. Menurut mereka, untuk menyelesaikan tugas sekolah, tinggal mencari referensi di rak-rak buku. "Bukunya lumayan lengkap, jadi kalo butuh bahan tak sulit lagi nyari-nyari sana-sini. Di sini juga ada internet wi-fi, gratis, kursinya empuk, jadi mending ngerjakan tugas di sini aja," kata Syafiga, siswa SMPN 1 Mempura kala berbincang dengan Tribun.
 

Akreditasi A

Hebatnya, kini perpustakaan Kabupaten Siak itu sudah mendapatkan sertifikat akreditasi A dari perpustakaan nasional. Sertifikat bernomor :15/1/ee/XII.2015 itu langsung ditandatangani oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih. Penilaian itu sudah dilakukan pada tahun 2015 lalu, namun penyerahan piagam baru pada awal Maret 2016 ini di Pekanbaru. Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak Herayulwita yang dijumpai kemarin mengatakan, tidak mudah untuk mendapatkan akreditasi A. Buktinya, hanya Kabupaten Siak yang berhasil mendapatkan akreditasi A dari 12 perpustakaan kabupaten dan kota se-Riau.
 
Pihaknya harus bersusah payah memenuhi indikator untuk dapat akreditasi A. Selain koleksi buku, juga pengelola yang profesional. Ditambah dengan fasilitas serta penataan yang mendukung, termasuk sarana dan prasarana. "Untuk memenuhi indikator itu sudah lama kita usahakan. Dengan anggaran terbatas kita dapat mengelola perpustakaandengan baik, hingga pembinaan perpustakaan desa," ujar Herayulwita di sela -sela kesibukannya. Tentang fasilitas, pihak penilai dari perpustakaan nasional itu sampai mengukur suhu udara, mengukur pencahayaan, sirkulasi udara, melihat majalah dinding (mading) , pengumuman dan ornamen-ornamen lainnya. Koleksi buku saat ini mencapai 70 ribu. Jika digabungkan dengan perpustakan desa yang dibinanya, koleksi buku mencapai 113 ribu. "Kita lihat pula daftar pengunjung, Alhamdulillah menambah percaya diri kita untuk ikut seleksi mencapai akreditasi ini. Sedikitnya, ada 9.000 pengunjung di tahun 2015 lalu. Kini, pengunjung semakin bertambah yakni lebih 200 orang tiap hari," kata dia. Binaan perpustakaan daerah ini tidak hanya perpustakaan sekolah dan desa. Ada pula dua perpustakaan khusus yakniperpustakaan di rumah tahanan (rutan) dan perpustakaanKejaksaan Negeri Siak. "Kita benar-benar konsentrasi untuk mendapatkan akreditasi A ini. Jadi tidak ada program yang kita buat itu sifatnya sepele. Sekecil apapun tetap punya arti. Dulu orang bilang, siapa orang di desa yang mau ke perpustakaan. Kini buktinya, perpustakaan desa itu ramai," kata dia.
 
Meningkatkan minat masyarakat ke perpustakaan tidak hanya dengan buku. Tetapi Herayulwita berhasil menjadikan pustaka sebagai pusat pembelajaran masyarakat. Warga yang punya kerajinan atau keterampilan disuruh menulis. Hasil tulisan itu dikumpulkan diperpustakaan, sehingga bernilai bagi pengunjung. "Ada misalnya ibu-ibu datang, dia nanya ada nggak bacaan cara membuat bolu kemojo. Kita punya itu, jadi semua permintaan kita punya. Maka sekarang kita berani pasang ke perpustakaanbisa bikin Anda kaya," kata dia. Banyak pengunjung yang mempraktikkan cara membuat kuliner tradisional dengan belajar memanfaatkan bahan bacaan diperpustakaan. Hingga sekarang, siapa saja yang menulis tentang keterampilannya akan dijadikan kumpulan koleksi bacaan diperpustakaan. Judul dari tulisan itu akan diinput melalui komputerisasi. "Nanti pengunjung tinggal klik, misalnya cara memasak asam pedas patin. Kalau koleksinya ada, ya tinggal ambil. Kalau pengunjung itu member bisa meminjam untuk dibawa pulang. Jadi, perpustakaan itu dinamis, jangan dibuat kaku. Bahkan kita sediakan bacaan bagi penyandang disabilitas," kata dia. 

Lebih lanjut Hera menjelaskan, saking tingginya minat masyarakat untuk berekreasi ke perpustakaan, hari-hari libur tetap buka. Sabtu dan Minggu, biasanya pengunjung keluarga lebih banyak. Sedangkan hari biasa, pengunjung dari sekolah-sekolah yang lebih banyak. "Sekarang Ranperda pengelolaan perpustakaan sedang dibahas dewan. Saya doakan itu cepat kelar dan jadi Perda. Supaya ada payung hukum kita. Selama ini kan belum ada," kata dia.


Sumber: pekanbaru.tribunnews.com

Kembali...